Selasa, 02 Maret 2010

Kuliah Online

RAGAM MODEL PEMBELAJARAN

1. Model Pembelajaran Langsung

Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung.

Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Pembelajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus tetap menjamin keterlibatan siswa. Jadi lingkungan belajar harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan kepada siswa.

Pada model pembelajaran langsung terdapat fase-fase yang penting. Pada awal pembelajaran guru menjelaskan tujuan, latar belakang pembelajaran, dan juga menyiapkan siswa untuk memasuki materi baru dengan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimiliki siswa yang relevan dengan materi yang akan dipelajari (apersepsi). Fase ini dilakukan untuk memberi motivasi pada siswa untuk berperan penuh pada proses pembelajaran.

Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi materi ajar atau demonstrasi mengenai ketrampilan tertentu. Pada fase mendemonstrasikan pengetahuan, hendaknya guru memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, sehingga akan memberi dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan latihan dan memberi umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yasng telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata.


2. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuik mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah utnuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.


MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN yang EFEKTIF
Langkah-langkah :
• Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
• Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
• Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
• Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
• Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
• Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai..............dst

METODE DEMONSTRASI DAN EKSPERIMEN
metode demonstrasi dan eksperimen Metode mengajar banyak sekali jenisnya, disebabkan oleh karena metode ini dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya : 1. Tujuan yang berbagai macam jenis dan fungsinya. 2. Anak didik yang berbagai macam tingkat kematangannya. 3. Situasi yang bermacam-macam keadaannya. 4. Fasilitas yang mempunyai beragam kwalitas dan kwantitasnya. 5. Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. Karena itu sulit untuk memberikan satu klasifikasi yang jelas mengenai setiap metode yang pernah dikenal di dalam pengajaran. Setiap usahA klasifikasi adalah arbitrer sifatnya. Lebih sulit lagi untuk menggolong-golongkan metode-metode itu di dalam nilai dan efektifitasnya, sebab metode yang ”kurang baik” di tangan seorang guru dapat menjadi metode yang ”baik sekali’ di tangan guru yang lain, dan metode yang baik akan gagal di tangan guru yang lain yang tidak menguasai teknik pelaksanaannya. Di dalam kenyataannya, banyak faktor yang menyebabkan tidak selalu dapat dipergunakan metode yang dianggap paling sesuai dengan tujuan, situasi, dan lain-lain. Guru seringkali terpaksa mempergunakan metode ”pilihan kedua” atau ”pilihan ketiga”. Yang penting diperhatikan oleh guru dalam keadaan demikian ialah batas-batas kelebihan dan kelemahan metode yang dipergunakannya, untuk dapat merumuskan kesimpulan mengenai hasil evaluasi usahanya itu. Demonstrasi dan eksperimen merupakan metode mengajar yang sangat efektif dalam menolong siswa-siswa mencari jawaban atas pertanyaan seperti : Bagaimana cara membuatnya? Terdiri dan bahan apa? Cara mana yang paling baik? Bagaimana dapat diketahui kebenarannya? Dengan demonstrasi sebagai metode mengajar dimaksudkan bahwa seorang guru, orang luar yang sengaja diminta, atau siswa sekali pun dapat memperlihatkan pada seluruh kelas suatu proses, misalnya bagaimana cara bekerjanya sebuah printer. Metode Demonstrasi adalah sebuah metode yang bersifat Ekspositori / Metode belajar yang bersifat memberi dan menerima (guru memberi ilmu kepada murid). Metode ini cukup efektif karena membantu para murid untuk memperoleh jawaban dengan mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu, dimana keaktifan biasanya lebih banyak dari pihak guru Dengan eksperimen dimaksudkan bahwa guru atau siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil percobaan itu. Jika dalam metode demonstrasi, keaktifan lebih banyak dari pihak guru, metode eksperimen langsung melibatkan para siswa melakukan percobaan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan yang diajukan. Metode ini merupakan unsur pokok dalam pendekatan inquiry dan discovery (belajar dengan menemukan).
B. Kelebihan dan Kelemahan Keuntungan sebuah metode demonstrasi.
1. Perhatian siswa dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal-hal yang penting dapat diamati seperlunya. Perhatian siswa lebih mudah dipusatkan pada proses belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lain.
2. Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca di dalam buku, karena siswa telah mempenoleh gambaran yang jelas dan hasil pengamatannya.
3. Bila siswa turut aktif bereksperimen, maka siswa akan memperoleh pengalaman-pengalaman praktek untuk mengembangkan kecakapannya dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari teman-teman dan gurunya.
4. Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan pada diri siswa dapat dijawab waktu mengamati proses demonstrasi/eksperimen
Kelemahan metode demonstrasi.
1. Daya tangkap setiap siswa berbeda, sehingga guru harus mengulang-ulang suatu bagian yang sama agar siswa dapat mengikuti pelajaran.
2. Waktu yang diperlukan untuk proses belajar mengajar akan lebih lama dibandingkan dengan metode ceramah.
3. Demonstrasi akan menjadi metode yang kurang baik apabila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa
4. Demonstrasi menjadi tidak efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas di mana siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman yang berharga.
5. Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.
6. Kadang-kadang, bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, siswa melihat suatu proses yang berlainan dengan proses jika berada dalam situasi yang sebenarnya.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif adalah strategi pengajaran yang sukses di tim-tim yang kecil, masing-masing dengan siswa dari berbagai tingkat kemampuan, menggunakan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman tentang subjek. Setiap anggota tim tidak hanya bertanggung jawab untuk mempelajari apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan tim belajar, sehingga membuat suasana pencapaian.
ada beberapa lagi dari metode pembelajaran yang dapat diterapkan para pendidik agar murid tidak merasa bosan :
1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.


2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).


3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan untuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengembangan matematika).
Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).


4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).


5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri


6. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.


7. Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.


8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.


9. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi


10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.


11. Reciprocal Learning
Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mengemukan bahwa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.
Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.


12. SAVI
Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.


13. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.

Relevansinya…
Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Menurut kami ragam metode pembelajaran mungkin sudah banyak tetapi metode tersebut tidak digunakan secara efektif oleh para guru. Contohnya perencanaan instruksional, banyak guru yang membuat rencana belajar tapi tidak diterapkan dalam pengajaran. metode pembelajaranpun sudah banyak yang menggunakan teknologi. para guru sudah mengenalkan kepada muridnya teknologi-teknologi yang bermanfaat untuk pendidikan. belajar dengan menggunakan teknologipun sangat efektif. contohnya yang sedang kita lakukan sekarang, yaitu diskusi dengan menggunakan gtalk. kita tidak perlu bertatap muka dengan para pendidik untuk berdiskusi.

Sedikitnya terdapat tiga syarat utama yang harus di perhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni sarana gedung, buku yang berkualitas, serta guru dan tenaga kependidikan yang profesional. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan di hadapi peserta didik di masa yang akan datng. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Secara empiris, rendahnya hasil belajar peserta didik disebabkan karena proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher-centered sehingga siswa menjadi pasif. Meskipun demikian guru lebih suka menerapkan model tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan praktek, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. Dalam hal ini siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berpikir dan memotivasi diri sendiri. Masalah ini banyak dijumpai dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas, oleh karena itu, perlu menerapkan strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu perubahan paradigma pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut di maksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan.
Satu hal lagi bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaharuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tersebut juga menghendaki, bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Satu inovasi yang menarik mengiringi perubahan paradigma tersebut adalah ditemukan dan diterapkannya Model-Model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri. Inovasi ini bermula dan diadopsi dari metode kerja para ilmuwan dalam menemukan suatu pengetahuan baru. Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah urgen bagi para pendidik khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan debgan pemilihan terhadap model-model pembelajaran modern. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktifitas dan kreatif peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

http://model-pembelajaran.blogspot.com/2008/08/ragam-model-pembelajaran.html


http://dossuwanda।wordpress.com/2008/03/18/ragam-metode-pembelajaran/

http://muhamadsb-tekhnologipendidikan.blogspot.com/2010/02/macam-macam-model-pembelajaran.html

http://marselinaportofolio.blogspot.com/2008/12/model-model-pembelajaran-inovatif.html


http://model-pembelajaran.blogspot.com/2008/08/ragam-model-pembelajaran.html
Nama kelompok :

Rismaya saragih (09039)

Ori sanri Sidabutar (09041)

Rebekka Riski A (09045)

Rani Febrina Ketaren (09051)

Kuliah Online

http://74.125.153.132/search?q=cache:FmBRNfxTPxQJ:indopendidikan.blogspot.com/2009/07/psikologi-pendidikan.html+psikologi+pendidikan+dan+pembelajaran&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/20/teknologi-pembelajaran/

http://model-pembelajaran.blogspot.com/2008/08/ragam-model-pembelajaran.html

http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/18/ragam-metode-pembelajaran/

http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran/



Nama kelompok :
Rismaya saragih (09-039)
Ori Sanri sidabutar (09-041)

Rebekka R A (09-045)
Rani Febrina K (09-051)

Kamis, 25 Februari 2010

SAHABAT BARU;Tugas 2

Apa itu ubiquitous computing?

Meskipun sebagian besar masyarakat umum belum menyadarinya namun pada dasarnya saat ini kita telah berada di era ketiga dari revolusi komputer, yaitu era ubiquitous computing. Dimana era ini menekankan pada distribusi komputer ke lingkungan daripada ke personal. Teknologi akan menjadi latar belakang dalam lingkungan ini dimana dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,masyarakat sudah dapat berinteraksi dengan banyak komputer yang terkoneksi dengan internet dan pengguna mungkin tidak menyadari perangkat mana di lingkungannya yang terkoneksi. Ubiquitous merupakan kebalikan dari realitas virtual. Jika realitas virtual menempatkan orang di dalam dunia yang diciptakan oleh komputer,ubiquitous computing akan memaksa komputer eksis di dunia manusia.
Menurut Weiser, ubiquitous computing dapat diartikan sebagai metode yang bertujuan menyediakan serangkaian komputer bagi lingkungan fisik pemakainya dengan tingkat efektifitas yang tinggi namun dengan tingkat visibilitas serendah mungkin. Weiser menjelaskan terminology computer dalam dunia ubiquitous computing tidak terbatas pada sebuah PC, sebuah notebook, ataupun sebuah PDA tetapi berwujud sebagai macam-macam alat yang memiliki sifat demikian natural, sehingga seseorang yang tengah menggunakan ubiquitous computing devices tidak akan merasakan bahwa mereka tengah mengakses sebuah komputer.

E-learning?


System pendidikan tradisional adalah dengan cara tatap muka,namun sekarang beralih menjadi system pendidikan yang tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. System ini merupakan system yang disentuh oleh teknologi informasi khususnya dunia cyber(maya),yang sering disebut dengan e-learning.
Huruf E pada kata e-learning berarti elektronik,dimana sering kita sepadankan dengan virtual (maya) atau distance (jarak). Sehingga dari pengertian ini akan muncul 2 istilah baru yakni, virtual learning (pembelajaran di dunia maya) atau Distance learning (pembelajaran jarak jauh).
E-learning adalah pembelajaran dengan bantuan atau jasa perangkat elektronik. Dengan e-learning,pembelajaran akan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Biasanya e-learning menggunakan network (jaringan) yang memungkinkan tersampainya bahan ajar kepada peserta didik dengan menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi berupa computer dan jaringan internet.

Bagaimana hubungan antara ubiquitous computing dengan e-learning?


Sekarang kita mengetahui bahwa di era ketiga computer ini,semua hal dilakukan dengan menggunakan system computer. Termasuk pada dunia pendidikan. Walupun dunia pendidikan sudah menggunakan system computer namun apakah e-learning sudah efektif digunakan pada dunia pendidikan?
Menurut saya,hal ini belum efektif dilakukan oleh pihak sekolah. Karena banyak para pendidik yang tidak mengenalkan muridnya pada dunia teknologi sehingga banyak murid yang tidak menyadari bahwa mereka telah berada pada era ketiga. Mereka hanya diperkenalkan sebatas pengetahuan teknologi yang sangat sederhana.
Sesungguhnya pada era ketiga ini,kita mungkin tidak akan menemukan masalah dalam dunia pendidikan karena e-learning ini akan sangat membantu kita. Sebab proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja walaupun jarak antar pengajar dan siswa sangat jauh. Itu bukan lagi masalah besar dalam dunia pendidikan di era ketiga ini. Sebagai contoh ubiquitous computing dengan e-learning adalah jika kita berminat untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, mungkin kita tidak harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri. Hanya dengan menggunakan computer dan dengan menggunakan web camera kita sudah dapat melakukan proses belajar mengajar. Hal seperti ini juga dapat dilakukan bagi siswa yang mengalami cacat mental ataupun cacat fisik. Guru atau murid tidak diharuskan datang ke sekolah untuk belajar atau mungkin tidak akan ada lagi anak yang home schooling. Karena semakin pesatnya perkembangan teknologi di dunia ini sehingga segala sesuatu akan dengan mudah untuk dilakukan. Termasuk dalam dunia pendidikan.
Ubiquitous computing dan e-learning harus diperkenalkan mulai sejak dini karena hal ini baik jika diterapkan terutama pada anak-anak yang masih ditahap pra operasional. Karena system pembelajaran yang mereka lakukan dikemas secara menarik sehingga mereka akan merasa tertarik untuk mempelajarinya. Mulai dari belajar warna,angka,huruf,dan pengenalan lainnya. Hal ini juga membantu orang tua dan guru dalam proses belajar.

Contoh dari penerapan ubiquitous computing :

Ada beberapa penerapan ubiquitous computing sudah dilakukan dibeberapa sekolah tanpa disadari oleh para muridnya. Seperti pada sekolah yang saya temukan di daerah Tangerang yang sudah menggunakan system ubiquitous computing. Sebagai contoh penerapan ubiquitous computing adalah sekolah yang tidak lagi menggunakan system absen di kelas namun mereka menggunakan computer yang di desain seperti ATM. Murid-murid hanya menggunakan jari jempol mereka untuk mengabsen sehingga guru tidak akan repot lagi untuk mengabsen mereka karena secara otomatis kehadiran mereka sudah dapat dihitung.
Secara tidak langsung ubiquitous computing mempengaruhi sistem e-learning dalam dunia pendidikan. Karena semakin maju teknologi komputer yang digunakan maka semakin maju pula sistem yang digunakan dalam kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Munir.2008.Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.Bandung:ALFABETA
Santrock,John W.2008.Psikologi Pendidikan.Jakarta:Kencana
www.google.com


Medan,25 februari 2010

Penulis

Jumat, 12 Februari 2010

tugas kelompok 2

Sepuluh kapal nelayan menangkap ikan di laut. Di tengah laut, mereka bertemu dengan 17 kapal layar bermuatan ikan mas koki masing-masing 20kg. Tiap ekor ikan mas kokiberatnya masing-masing 1kg. Hari ini aku berulang tahun. Ibu akan membuat pesta untukku dan mengundang semua keluarga besarku. Ibu membeli 9 ekor ayam untuk acara ulang tahunku. Aku sangat suka memelihara ikan mas koki. Di akuarium paman ada 7 aikan mas koki. Ikan koki itu dibeli dari nelayan dan dihadiahkan untukku.

nama kelompok:
rismaya saragih (09039)
ori sanri (09041)
rebekka (09045)
rani febrina (09051)

Rabu, 10 Februari 2010

Koran Vs Internet ; tugas 1

Awali hari dengan membaca koran. Itulah yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun,sekarang ini awali hari dengan membuka internet. Internet menyediakan informasi yang tak terhingga yang dapat diakses oleh murid-murid dibandingkan dengan koran yang hanya terbatas pada informasi yang terjadi saat itu saja. Informasi yang disediakan oleh internet tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Segala macam informasi di masa lampau dapat dengan mudah diakses. Internet telah menjadi sarana komunikasi yang sangat handal dan sangat bermanfaat bagi kepentingan para peneliti,guru,dan peserta didik. Dari internet juga dapat diakses informasi-informasi yang disajikan oleh berbagai surat kabar atau majalah tanpa harus berlangganan dan menunggu hari diterbitkannya surat kabar tersebut.
Seperti pengalaman saya pada saat SNMPTN,yang mana pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang dapat dilihat langsung lewat internet dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan surat kabar. Hal ini merupakan suatu fakta bahwa dengan internet berbagai macam informasi dapat diperoleh dengan lebih cepat. Dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak pelajar,termasuk saya yang tidak menyukai surat kabar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan surat kabar tidak menarik untuk dibaca oleh para pelajar dan menurut saya salah satunya adalah karena penyajiannya yang tidak terlalu menarik. Di lain pihak, internet banyak menyajikan fasilitas-fasilitas dengan fitur-fitur yang menarik yang membuat saya tidak bosan untuk melihatnya. Selain itu, Banyak informasi yang diberikan oleh internet yang tidak dapat disajikan oleh surat kabar,khususnya dalam dunia pendidikan. Surat kabar banyak membahas tentang peristiwa yang terjadi tetapi tidak memberikan informasi yang membuat kita lebih mengenal dunia,contohnya karya ilmiah.
Pada saat ini saya juga dapat dengan mudah mengakses materi-materi kuliah yang tidak dapat ditemukan dalam surat kabar. Pada saat SMA pun,saya dapat dengan mudah mendapatkan soal-soal yang berhubungan dengan materi sekolah terkhususnya pada saat saya ingin mengikuti UAN dan SNMPTN. Hal ini dapat saya temukan di internet.
Faktor utama daya tarik internet adalah dari sisi kemampuan internet dalam mengakses informasi teks,audio,gambar,perkiraan,ilustrasi dan yang lain dari 320 juta web di internet dengan lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan media komunikasi /informasi yang lain. Selain itu,dengan menggunakan internet tidak hanya mendapatkan informasi tetapi dapat juga digunakan untuk saling berkomunikasi dengan orang-orang diberbagai belahan dunia sehingga dapat meningkatkan hubungan social,seperti : e-mail,chatting,mailing list,dll. Salah satunya adalah Facebook,yang sekarang ini sedang marak. Dengan Facebook pun saya dapat berkomunikasi kembali dengan teman-teman SD,SMP,maupun teman SMA saya yang sudah lama tidak berjumpa.Hal ini juga yang merupakan suatu kelebihan internet yang tidak didapat di surat kabar. Hal ini yang membuat orang selalu tertarik untuk menikmati internet. Karena banyak hal yang tidak ditemukan dalam media lain yang hanya terdapat di internet.
Namun di sisi lain internet juga memiliki beberapa kekurangan mengingat bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna. Kekurangannya antara lain: banyak informasi yang diragukan kebenarannya. Mengapa demikian? Internet merupakan media penyebaran informasi elektronik yang paling murah dan cepat sehingga banyak peneliti membangun homepage yang membuat informasi yang tidak berkualitas. Sedangkan informasi yang diberikan di surat kabar lebih teruji akurat karena didasarkan pada fakta yang ada di lingkungan. Namun, bukan berarti informasi di internet tidak akurat hanya saja banyak tangan-tangan iseng yang membuat internet menjadi seperti itu.
Kelebihan dan kelemhan dari surat kabar dan internet bisa saling menutupi satu sama lain. Oleh karena itu,surat kabar dan internet bukanlah hal yang patut untuk dibeda-bedakan karena keduanya tercipta untuk saling melengkapi.

DAFTAR PUSTAKA
Santrock, John. W. (2008). Psikologi Pendidikan Edisi kedua. Jakarta: Kencana
Munir.(2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta

Medan, 10 February 2010
RANI FEBRINA KETAREN

Minggu, 07 Februari 2010

Memiliki e-mail dan blog banyak manfaat yang dapat kita rasakan. Kita menjadi tau bagaimana membuat e-mail dan blog sehingga kita tidak gapteki jaman sekarang ini. Kita pun menjadi tahu cara menggunakan program tersebut. Dengan blog pula kita pun dapat mengekspresikan diri dan mengasah kreativitas. Blog membuat kita lebih dekat dengan informasi-informasi yang up to date. Dengan blog kita dapat bertukar infomasi,sharing,dan lain sebagainya dengan orang lain sehingga kita banyak mengenal orang. Kita lebih komunikatif dengan mahasiswa di luar Universitas lainnya sehingga kita dapat sharing tentang hal pendidikan. Denagn dosen pun kita jadi tidak terbatas dengan waktu karena di luar jam mata kuliah kita masih tetap bisa sharing dengan dosen.
Hal seperti ini sangat efektif untuk mahasiswa namun lebih efektif lagi jika di Universitas disediakan segala macam sarana agar mahasiswa yang kurang mampu masih tetap dapat mengikuti perkuliahan. Selain itu,di zaman sekarang ini,penggunaan blog untuk mengumpulkan tugas kuliah sangat membatu dalam mengurai global warming dan lebih praktis.